Desa Sugihwaras
Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo
Sejarah Desa

PETA KOLONIAL BELANDA TAHUN 1922
PETA KOLONIAL BELANDA TAHUN 1892
Desa Sugihwaras merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Letaknya yang berada di kawasan penyangga Kota Sidoarjo menjadikan Desa Sugihwaras memiliki posisi yang strategis, baik dalam perkembangan ekonomi, sosial, maupun budaya masyarakat.
Sejarah Desa Sugihwaras tidak hanya tersimpan dalam dokumen-dokumen lama, tetapi juga diwariskan secara turun-temurun melalui cerita para sesepuh desa. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, desa ini pada mulanya dikenal dengan nama Sugihwalat. Nama tersebut berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu Sugih yang berarti kaya atau makmur dan Walat yang berarti musibah, wabah penyakit, atau malapetaka. Nama tersebut dipercaya menggambarkan kondisi desa pada masa lampau yang memiliki sumber daya melimpah, namun pernah mengalami masa-masa sulit akibat wabah penyakit yang melanda masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, para tokoh masyarakat dan sesepuh desa bersepakat untuk mengganti nama Sugihwalat menjadi Sugihwaras. Kata Waras dalam bahasa Jawa berarti sehat, sembuh, selamat, dan sejahtera. Pergantian nama tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai perubahan penyebutan semata, tetapi juga menjadi doa, harapan, dan semangat bersama agar masyarakat desa senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, kemakmuran, serta terhindar dari berbagai bencana dan wabah penyakit.
Tradisi lisan tersebut kemudian diperkuat oleh keberadaan sejumlah dokumen sejarah berupa peta peninggalan Pemerintah Hindia Belanda. Pada peta Belanda tahun 1892, nama desa telah tercantum sebagai D. Soegihwaras, sedangkan pada peta Belanda tahun 1922 tertulis Soegihwaras. Penulisan tersebut menggunakan ejaan lama yang lazim digunakan pada masa itu, di mana kata "oe" dibaca "u", sehingga dibaca sebagai Sugihwaras. Keberadaan peta tersebut menunjukkan bahwa nama Sugihwaras telah dikenal dan digunakan sejak masa kolonial.
Menurut cerita yang diwariskan oleh para leluhur, Desa Sugihwaras juga memiliki hubungan erat dengan tiga tokoh yang dipercaya sebagai pembabat alas atau perintis berdirinya desa. Ketiga tokoh tersebut adalah Mbah Sirogati, Mbah Ronggo, dan Mbah Wareng. Masyarakat meyakini bahwa ketiga tokoh inilah yang pertama kali membuka kawasan hutan, mengelola lahan, serta meletakkan dasar kehidupan bermasyarakat di wilayah yang kini menjadi Desa Sugihwaras.
Hingga saat ini, petilasan yang diyakini berkaitan dengan ketiga tokoh tersebut masih terawat dan dihormati oleh masyarakat. Keberadaan petilasan tersebut menjadi bagian dari warisan budaya desa yang mencerminkan penghormatan masyarakat kepada jasa para leluhur. Selain sebagai pengingat sejarah, tempat-tempat tersebut juga menjadi simbol nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan semangat membangun kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Memasuki masa kemerdekaan Indonesia hingga saat ini, Desa Sugihwaras terus berkembang menjadi desa yang maju tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Pembangunan di berbagai bidang, seperti pemerintahan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, serta pelayanan publik terus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, tradisi dan sejarah desa tetap dijaga sebagai identitas yang memperkuat rasa persatuan dan kebanggaan warga terhadap tanah kelahirannya.
Sejarah Desa Sugihwaras merupakan perpaduan antara tradisi lisan masyarakat dan bukti sejarah yang masih dapat ditelusuri melalui dokumen-dokumen peninggalan masa kolonial. Oleh karena itu, sejarah ini menjadi bagian penting dari identitas Desa Sugihwaras yang patut dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus sumber inspirasi bagi generasi sekarang dan yang akan datang dalam membangun desa yang semakin maju, sehat, sejahtera, dan bermartabat.


